Lompat ke isi utama

Berita

Menjaga Pancasila, Merawat Indonesia: Pesan Patriotisme dari Apel Hari Kesaktian Pancasila

Suasana apel peringatan hari kesaktian Pancasila di Bawaslu Karangasem, Kamis (1/9)

Karangasem – Pagi di halaman Bawaslu Kabupaten Karangasem terasa berbeda. Di bawah langit awal Oktober, seluruh jajaran Bawaslu Kabupaten Karangasem mengikuti apel memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10). Apel tersebut dipimpin oleh I Kadek Arianta Putra selaku pembina apel.

Bagi Arianta, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar peringatan yang hadir setiap tahun. Di balik tanggal 1 Oktober, ada pesan tentang bagaimana Pancasila tetap berdiri sebagai pijakan bangsa, melewati berbagai zaman, tantangan, dan perbedaan.

Dalam amanatnya, Arianta mengajak seluruh jajaran untuk tidak hanya menghafalkan Pancasila, tetapi menghadirkan nilai-nilainya dalam setiap tugas dan pengabdian.

“Pancasila bukan hanya lima sila yang kita ucapkan dalam setiap upacara. Pancasila adalah nilai yang harus kita hidupkan dalam setiap langkah, dalam cara kita bekerja, memperlakukan sesama, dan menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa ini,” ujar Arianta.

Ia menyampaikan, kesaktian Pancasila sejatinya tercermin dari kemampuannya menjadi titik temu bagi bangsa Indonesia yang begitu beragam. Perbedaan suku, agama, budaya, maupun pilihan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.

Justru dari perbedaan itulah, semangat persatuan harus terus dirawat.

“Indonesia dibangun bukan karena kita sama, tetapi karena kita memilih untuk tetap bersama di tengah segala perbedaan. Itulah mengapa Pancasila harus terus kita jaga, bukan hanya dari ancaman yang terlihat, tetapi juga dari sikap-sikap yang perlahan dapat menjauhkan kita dari persatuan,”katanya.

Sebagai jajaran pengawas pemilu, Arianta juga mengingatkan bahwa menjaga Pancasila berarti menjaga nilai-nilai demokrasi yang berkeadilan. Setiap tugas pengawasan, menurutnya, merupakan bagian kecil dari ikhtiar menjaga agar demokrasi tetap berjalan dalam koridor hukum, kejujuran, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara.

“Kita mungkin tidak sedang mengangkat senjata seperti para pejuang dahulu. Tetapi hari ini, kita memiliki medan pengabdian kita sendiri. Bekerja dengan jujur, menjaga integritas, menghormati perbedaan, dan memastikan demokrasi berjalan dengan adil adalah bentuk perjuangan kita untuk Indonesia,” tutur Arianta.

Hari Kesaktian Pancasila pun menjadi pengingat bahwa patriotisme tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan gemuruh. Ia dapat tumbuh dari hal-hal sederhana: datang bekerja dengan tanggung jawab, melayani dengan ketulusan, menjaga amanah, serta berani berdiri di sisi kebenaran.

Sebab mencintai Indonesia tidak selalu harus dengan kata-kata yang lantang. Terkadang, cinta itu justru hadir dalam kesediaan untuk terus menjaga apa yang telah diwariskan para pendahulu.

“Mari kita rawat Pancasila dengan cara kita masing-masing. Karena selama Pancasila tetap hidup dalam hati dan tindakan kita, selama itu pula Indonesia akan memiliki alasan untuk terus berdiri, tumbuh, dan melangkah bersama,” pungkas Arianta.

Di penghujung apel, semangat Hari Kesaktian Pancasila terasa bukan sekadar sebagai penghormatan kepada sejarah, tetapi sebagai janji untuk masa depan: bahwa nilai-nilai Pancasila akan terus dijaga, dirawat, dan diwariskan—dari satu generasi kepada generasi berikutnya.