Lompat ke isi utama

Berita

Saat Nilai Dharma Menyapa Demokrasi: Dialog Bawaslu Karangasem Bersama Tokoh Agama

Ketua Bawaslu Karangasem, Suardika dan Kordiv HPS, Diana DEvi tengah berdiskusi dengan Jro Mangku Merta terkait peran tokoh agama dalam kepemiluan

Amlapura – Bertepatan dengan Hari Suci Purnama Karo, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Karangasem menggelar diskusi demokrasi bersama tokoh agama (Jro Mangku), I Made Merta, di Kantor Bawaslu Karangasem, Rabu (29/7). Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara penyelenggara pemilu dan tokoh agama dalam membangun budaya demokrasi yang berlandaskan nilai-nilai moral, etika, dan kebersamaan.


Diskusi dihadiri oleh Ketua Bawaslu Karangasem, I Nengah Putu Suardika bersama Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, Diana Devi. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan bertepatan dengan Hari Suci Purnama Karo, diskusi mengarah pada pentingnya peran tokoh agama dalam menjaga kualitas demokrasi serta mendorong partisipasi masyarakat yang bertanggung jawab dalam setiap tahapan pemilu.


Ketua Bawaslu Karangasem, I Nengah Putu Suardika, menegaskan bahwa demokrasi tidak hanya dibangun melalui aturan hukum, tetapi juga melalui kesadaran moral seluruh elemen masyarakat.


"Demokrasi yang sehat memerlukan partisipasi masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya. Tokoh agama memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan-pesan persatuan, kedamaian, dan pentingnya menjaga integritas pemilu sehingga proses demokrasi dapat berjalan dengan jujur, adil, dan bermartabat," ujar I Nengah Putu Suardika.


Sementara itu, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Karangasem, Diana Devi, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan tokoh agama menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan pelanggaran pemilu.


"Pencegahan pelanggaran pemilu tidak dapat dilakukan oleh Bawaslu sendiri. Dibutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan, politik uang, maupun praktik-praktik yang mencederai nilai demokrasi," kata Diana Devi.


Tokoh agama sekaligus Jro Mangku, I Made Merta, menyambut baik terselenggaranya diskusi tersebut. Menurutnya, nilai-nilai keagamaan dan demokrasi memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis, adil, dan saling menghormati.


"Hari Suci Purnama Karo mengajarkan umat untuk meningkatkan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Nilai-nilai tersebut juga relevan dalam kehidupan berdemokrasi, karena masyarakat diajak menggunakan hak pilih dengan hati nurani, menjunjung kejujuran, serta menjaga persaudaraan meskipun memiliki pilihan politik yang berbeda," ungkap I Made Merta.


Melalui diskusi ini, Bawaslu Karangasem berharap hubungan baik dengan para tokoh agama terus terjalin sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan demokrasi di tengah masyarakat. Sinergi antara penyelenggara pemilu dan tokoh agama diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif untuk menjaga pemilu yang berintegritas, damai, dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan serta kearifan lokal.