Tantangan Perekaman KTP-el: Bawaslu Karangasem Soroti Edukasi dan Apatisme Pemilih Muda
|
Karangasem – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Karangasem menemukan fakta menarik di lapangan terkait kendala pemutakhiran data pemilih. Selain kendala teknis, minimnya kesadaran dan anggapan bahwa pemilu masih jauh menjadi alasan utama banyak pemilih pemula belum mengantongi KTP-elektronik (KTP-el).
Hal ini terungkap saat Anggota Bawaslu Karangasem, I Kadek Arianta Putra, melakukan uji petik dan konsolidasi data pemilih berkelanjutan bersama warga. Senin (20/4). Dalam diskusi tersebut, salah satu pemilih pemula yang menjadi sampling, Ni Putu Juniari, mengungkapkan realita yang terjadi di kalangan remaja.
Menurut Juniari, banyak rekan sebayanya yang merasa tidak perlu terburu-buru mengurus administrasi kependudukan karena merasa momentum pesta demokrasi masih lama.
"Jujur saja, banyak dari kami yang masih enggan mengurus KTP karena merasa Pemilu itu masih jauh, jadi buat apa buru-buru. Selain itu, kurangnya edukasi tentang pentingnya KTP-el sejak dini bikin banyak yang masa bodoh. Kesadaran untuk mandiri mengurus itu memang masih sangat kurang," ungkap Ni Putu Juniari di hadapan tim Bawaslu.
Merespon keluhan dan fakta tersebut, I Kadek Arianta Putra menekankan bahwa edukasi mengenai data pemilih harus dilakukan secara lebih masif dan menyentuh sisi personal masyarakat.
"Ini masukan yang sangat berharga. Kami menyadari ada gap informasi di mana masyarakat, terutama pemilih pemula, merasa KTP-el itu hanya diperlukan saat hari H pemungutan suara saja. Padahal, KTP-el adalah kunci akses bagi semua hak publik mereka, bukan cuma soal mencoblos," ujar Arianta.
Ia menambahkan bahwa pandangan "pemilu masih jauh" adalah pola pikir yang harus diubah agar tidak terjadi penumpukan administrasi di akhir waktu yang berisiko menghilangkan hak suara.
Di sisi lain, Arianta juga mengaitkan kurangnya kesadaran ini dengan data pemilih meninggal dunia yang seringkali tidak dilaporkan oleh pihak keluarga dengan alasan serupa.
"Sama halnya dengan data kematian, seringkali keluarga merasa tidak perlu mengurus akta kematian karena dianggap tidak mendesak. Akibatnya, data pemilih kita jadi membengkak oleh warga yang sudah tidak memenuhi syarat. Lewat konsolidasi ini, kami ingin masyarakat sadar bahwa akurasi data adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga integritas pemilu," tegasnya.
Mengakhiri diskusinya, Arianta berjanji akan terus mendorong instansi terkait untuk meningkatkan edukasi dan jemput bola guna mempermudah akses bagi pemilih pemula seperti Juniari dan kawan-kawannya.
"Kami akan sampaikan feedback ini ke pihak terkait. Edukasi harus lebih gencar. Untuk adik-adik pemilih pemula, jangan tunggu mepet. Mari kita tertib administrasi sejak sekarang agar saat pesta demokrasi dimulai, kalian sudah siap memberikan suara tanpa kendala teknis," pungkas Arianta.